Pengamat CSIS: Hanya Rakyat yang Bisa Menolong Jokowi

Liputan6.com, Jakarta – Joko Widodo atau Jokowi bak fenomena baru di kancah politik era demokrasi di Indonesia. Gerakan masyarakat begitu masif dalam mendukung Gubernur DKI Jakarta itu menjadi presiden. Tidak salah jika dikatakan, basis kekuatan Jokowi adalah rakyat, bukan elite partai. Bahkan, kekuatan rakyatlah yang menjadi penolong dalam memenangkan Jokowi.

“Periode menarik, ternyata yang menjadi penolong dari otoritarian (otoriter) ke demokrasi adalah masyarakat,” kata peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Philips J Vermonte saat diskusi bertajuk ‘Strategi Rakyat Mengawal Demokrasi Pancasila’ di Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (16/10/2014).

Philips menjelaskan, kondisi yang dialami Jokowi saat ini sama dengan apa yang terjadi pada tahun 1999. Setelah Soeharto lengser pada Mei 1998, PDIP memenangkan perebutan kursi presiden. Padahal, tidak bisa dipungkiri, Partai Golkar juga masih tetap kuat saat itu.

“Artinya masyarakat punya kesadaran zaman juga, kapan dia dibutuhkan membantu meneruskan apa yang dicapai. Negara lain sering juga. Ini semacam sunnatullah juga, pada periode tertentu masyarakat akan memutuskan sendiri jalannya politik di tengah dominasi elite lama yang kuat,” ungkap Philips.

Ia menjelaskan, masa keemasan masyarakat muda khususnya juga dirasakan pada Pemilu 2014. Masyarakat yang tidak memiliki hubungan dengan Orde Baru tidak hanya menyumbangkan suaranya, tapi rela menyumbangkan tenaga, waktu, dan pikiran. Hal itulah yang tidak dimiliki calon lain kala itu.

“Masa kedaluwarsanya adalah saat pemilihan MPR. Mereka generasi tua tidak bisa lagi memiliki kemampuan tawar-menawar yang cukup. Mulai itu, yang membantu Jokowi adalah masyarakat,” ujar Philips.

Lebih jauh Philips memaparkan, pergerakan para pemuda juga ditunjukkan saat adanya sengketa penghitungan suara di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Tanpa perintah, para pemuda membuat website Kawal Pemilu. Di situ, mereka bergabung mengumpulkan data dari formulir C1 yang diunggah (upload) KPU lalu menghitungnya. Hasilnya pun tidak jauh berbeda.

“Ini kan hanya bisa dilakukan oleh anak muda yang mengerti IT. Dan mereka bergerak secara sukarela,” pungkas peneliti CSIS tersebut.