Secangkir Kopi Jokowi-Ical

Pertemuan Jokowi dan Ical menimbulkan spekulasi bahwa Golkar akan “bercerai” dari Koalisi Merah Putih (KMP). Namun Ical mempertegas kepada Jokowi bahwa partainya tetap berada di barisan Koalisi Merah Putih ‎(KMP) yang mengusung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa pada Pilpres 2014 lalu.

“Dalam pertemuan sambil ngopi tadi, beliau (Ical) sampaikan akan tetap pada posisi di dalam Koalisi Merah Putih (KMP),” ujar Jokowi.

Mantan Walikota Solo itu pun mengaku dirinya menghargai keputusan Ical untuk tetap mempertahankan Golkar di Koalisi Merah Putih. Jokowi justru memberi apresiasi kepada Golkar yang memutuskan berada di luar pemerintahan bersama KMP.

“Bagus menurut saya untuk keseimbangan, check balance agar kita mengelola pemerintahan ada yang mengontrol dan mengawasi. Untuk manajemen kenegaraan itu menurut saya bagus,” kata Jokowi.

Menurut Gubernur DKI Jakarta tersebut, perbedaan sikap itu merupakan hal yang lumrah dalam berdemokrasi. Ia pun ingin menujukkan kalau perbedaan sikap politik tidak berarti hubungan antara dirinya dan Ical maupun politisi Golkar lainnya memanas. Jokowi menegaskan bahwa antara dirinya dan Ical tetap berhubungan baik.

“Kita juga ingin menyampaikan kepada masyarakat, ingin tunjukkan kepada masyarakat, bahwa saya, Pak JK, dan Pak ARB tidak ada masalah. Jadi ini hanya persoalan biasa, perbedaan politik, dalam demokrasi, itu sangat wajar,” kata Jokowi.

Menimpali apa yang disampaikan Jokowi, Ical mengatakan, sikap yang diambil oleh Partai Golkar bukan berarti Jokowi menjadi musuh politiknya. Ia pun tetap berhubungan baik dan menganggap Jokowi sebagai sahabat.

“Perbedaan pendapat dalam alam demokrasi adalah satu hal yang lumrah dan biasa. Bukan berarti kita bermusuhan, tapi cari solusi terbaik untuk bangsa dan negara,” ujar Ical. “Golkar dan Koalisi Merah Putih bukan musuh, bukan oposisi, tapi penyeimbang.”

Pemilik Bakrie Group juga menegaskan, partai penyeimbang dalam suatu sistem perpolitikan bukanlah posisi abu-abu. Partai penyeimbang menurut dia berperan penting dalam menjalankan fungsi kontrol bila ada program-program pemerintah yang dianggap kurang pro terhadap rakyat.

“‎Kalau penyeimbang disebut banci, tidak. Kalau oposisi disebut menolak (pemerintahan). Lalu, penyeimbang apa? Penyeimbang itu, yang baik dari program pemerintah di-support dan yang kurang baik didiskusikan,” ujar Ical.

Ical yakin posisi partainya saat ini justru akan membuat pemerintahan Jokowi-JK berjalan dengan baik. Ia pun mengatakan, pihaknya akan terus memberikan kritik membangun kepada pemerintahan Jokowi-JK.

“Ke depan, kalau ini semua politik dapat membuka ruang komunikasi, Indonesia akan hebat, bagus, dan luar biasa.‎ Prinsip saya seorang sahabat, kalau memuji-muji terus mau masuk jurang dipuji terus. Kita tetap sahabat tapi posisi lain. Itu pendapat saya dan tidak berubah,”‎ tandas Aburizal Bakrie.

Namun demikian, Jokowi meyakini segala kemungkinan bisa terjadi dalam dunia politik. Ia pun menilai bisa saja saat ini Golkar memutuskan untuk tetap di koalisi Prabowo, namun pada kemudian hari justru meminta bergabung ke dalam pemerintahan. “Inikan jawaban (Ical) hari ini, belum tentu besok. Belum tentu bulan depan,” ucap Jokowi sambil tertawa.

Mendengar pernyataan tersebut, Ical yang saat ini jabatannya tengah digoyang di internal Golkar karena gagal membawa partai berlambang pohon beringin menang pemilu, langsung menimpalinya. “Tapi kan kabinet Pak Jokowi itu disusun tanggal 21 Oktober, bukan bulan depan,” jawab Ical. Mendengar jawaban tersebut, Jokowi pun langsung tersenyum sumringah‎.

Lantas apakah secangkir kopi tanda “perdamaian” hanya berlaku untuk Ical? Apakah Jokowi juga bakal minum kopi bareng Prabowo? Tentu itu mungkin-mungkin saja. Sebagaimana yang diungkapkan Deputi Tim Transisi Jokowi-JK, Andi Widjayanto, pertemuan Jokowi-Ical merupakan  “safari politik termasuk dengan ketum Koalisi Merah Putih yang lain.” Nah, kita tunggu saja. (Rmn)